Dari sisi kesiapan sosial, Fary menyatakan bahwa pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah Galang telah dilakukan sejak sebelumnya. Ia juga menyebut proses pembebasan lahan telah berjalan.
Meski demikian, realisasi proyek tetap membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara BP Batam, pengembang, investor, dan pihak terkait agar tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana.
Selain mendorong investasi dan hilirisasi industri, proyek kawasan industri Wiraraja juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja.
Dalam keterangannya, Fary menyebut potensi penyerapan tenaga kerja mencapai puluhan ribu orang. Namun, jumlah tersebut merupakan proyeksi pengembangan kawasan secara keseluruhan, bukan jumlah tenaga kerja yang langsung terserap pada tahap pertama.
Dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap, realisasi kebutuhan tenaga kerja akan mengikuti perkembangan pembangunan infrastruktur, masuknya investor, serta operasional fasilitas industri.
Bagi Batam dan wilayah Kepulauan Riau, pengembangan kawasan industri di Galang berpotensi memperluas basis investasi sekaligus mendorong terbentuknya rantai pasok industri bernilai tambah.
BP Batam menempatkan percepatan perizinan, penyediaan infrastruktur dasar, dan koordinasi dengan pengembang sebagai bagian penting dalam mendorong proyek tersebut bergerak dari tahap kesepakatan menuju realisasi investasi.
Melalui pengembangan Wiraraja Green Renewable Energy & Smart-Eco Industrial Park, kawasan Galang diproyeksikan menjadi salah satu lokasi pengembangan industri masa depan yang mengintegrasikan kegiatan manufaktur, hilirisasi sumber daya, dan dukungan infrastruktur energi.(Iman)













