“Biasanya, setelah beberapa bulan inflasi, ada saatnya harga turun. Harapannya November–Desember inflasinya kecil, bahkan bisa deflasi. Yang jelas, kita masih dalam rentang target nasional, ” tegasnya.
Secara historis, kata Adik, lima tahun terakhir hanya tahun 2022 yang mencatat inflasi Desember di atas 1%. Tahun-tahun lainnya berada di sekitar 0,5–0,7%.
Di luar faktor makro, tantangan terbesar Kepri adalah karakteristik wilayah yang minim produksi komoditas pangan. Sebagian besar kebutuhan bahan pokok masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Komoditas di Kepri ini hampir semuanya defisit. Produksinya minim. Karena itu strategi kita adalah memperkuat kerja sama antar daerah,” tegas Adik.
Kolaborasi tersebut dilakukan melalui penjajakan kerja sama antar daerah (KAD) guna memastikan kelancaran pasokan strategis seperti cabai, beras, dan hortikultura lainnya. Salah satu langkah konkret ialah mempertemukan pedagang Kepri dengan petani di daerah sentra produksi, seperti Semarang.
“Kami membawa pedagang dari Kepri untuk bertemu langsung dengan petani di Semarang agar harga bisa sinkron. Ini efektif menekan harga di tingkat konsumen,” ujarnya.
Selain mendatangkan pasokan dari luar, BI juga mendorong peningkatan produksi lokal melalui berbagai program, termasuk sektor hortikultura.
“Kita punya program peningkatan produktivitas cabai. Dari dalam kita tingkatkan, dari luar kita datangkan. Dua-duanya berjalan, ” tegasnya.
