Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan IHSG tidak semata-mata dipengaruhi oleh perkembangan terkait MSCI.
Sejumlah faktor lain, seperti kebijakan suku bunga global, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), serta kondisi sosial dan politik, juga turut memengaruhi dinamika pasar.
“Pada hari pertama setelah MSCI mengeluarkan pernyataan, memang terjadi kepanikan di kalangan investor. Namun, penurunan IHSG bukan hanya disebabkan faktor tersebut, melainkan juga faktor-faktor lain, termasuk suku bunga dan kondisi sosial politik,” jelasnya.
Indra mengapresiasi langkah strategis yang ditempuh Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam merespons berbagai masukan terkait pasar modal Indonesia.
Menurut dia, reformasi diperlukan untuk memperkuat kualitas dan kredibilitas pasar modal nasional, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Ia juga menjelaskan bahwa MSCI sebelumnya dijadwalkan menyampaikan hasil rekomendasi pada April 2027. Namun, pernyataan yang muncul lebih awal menunjukkan bahwa penyedia indeks global tersebut dapat menyampaikan pandangannya sesuai kewenangannya.
Bagi Indra, respons regulator dan penyelenggara bursa melalui kebijakan strategis menjadi salah satu faktor yang dapat membantu memulihkan keyakinan pelaku pasar.
Ia mengamati adanya perbaikan pergerakan IHSG setelah sempat mengalami tekanan. Indeks yang sebelumnya berada di kisaran 4.900 kemudian kembali bergerak naik menembus level 5.000.
Meski demikian, pergerakan indeks saham tetap dipengaruhi berbagai faktor sehingga investor perlu mencermati perkembangan pasar dan tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.
Di tengah volatilitas pasar, Indra menilai investor berpengalaman umumnya memiliki pendekatan tersendiri dalam menyikapi koreksi harga saham. Salah satunya dengan mencermati peluang pada saham perusahaan yang memiliki fundamental dan kinerja bisnis yang baik.
