Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam juga mencapai Rp253,6 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Tak hanya itu, indikator sosial turut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan menurun dari 4,85 persen pada 2024 menjadi 3,81 persen pada 2025, atau sekitar 68 ribu jiwa. Sementara tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 7,57 persen.
Amsakar menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ketika ekonomi tumbuh dan kemiskinan serta pengangguran turun, berarti pembangunan berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Dari sisi investasi, realisasi Batam sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun, melampaui target pemerintah pusat sebesar Rp60 triliun atau 118 persen dari target.
Disisi lain, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menilai capaian ini sebagai bukti kuatnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode penuh tekanan akibat dinamika global, termasuk geopolitik, gangguan rantai pasok, dan kenaikan biaya energi.
“Batam harus mampu menjaga kepercayaan investor dan memperkuat tata kelola investasi,” ujarnya.
Ke depan, sektor maritim diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama ekonomi Batam. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025, cakupan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam diperluas dari 80 menjadi 122 pulau.









