“Debit air kita berkurang, karena itu penting membersihkan eceng gondok agar serapan air tetap baik. Sumber air kita sangat bergantung pada hujan,” jelasnya.
Dalam gerakan perdana ini, sedikitnya 5.600 personel dilibatkan, terdiri dari unsur pemerintah, TNI-Polri, hingga relawan. Ke depan, Pemko Batam berencana memperluas jangkauan Gema Batam Asri melalui edaran atau Peraturan Wali Kota agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin, baik mingguan maupun bulanan.
“Sasarannya bukan hanya instansi pemerintah, tapi juga swasta, dunia usaha, sekolah, rumah ibadah, hotel, pantai, dan berbagai lokasi lainnya. Apalagi saat ini ada genangan dan tumpahan minyak, ditambah musim angin yang membuat sampah banyak terbawa ke wilayah kita,” katanya.
Amsakar menegaskan, Gema Batam Asri tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah semata. Ia berharap gerakan ini menjadi milik seluruh warga Batam dengan melibatkan tokoh masyarakat hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Yang paling penting, ini gerakan masyarakat. Kita perlu membangun semangat kolektif, energi positif, dan menghentikan narasi-narasi kontraproduktif yang membuat kita saling berjarak,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Amsakar juga menyinggung peran media dalam membangun optimisme daerah. Ia menilai kritik tetap diperlukan, namun harus disampaikan secara proporsional dan berperspektif lokal.
“Kalau ada berita seolah Presiden menegur Batam soal sampah, padahal tidak ada teguran, itu kan aneh. Seakan kita bahagia dengan berita yang tidak membahagiakan. Kritik boleh, tapi mari kita lihat dalam konteks daerah,” ujarnya.
Menyikapi kondisi kemarau, Pemko Batam bersama tokoh masyarakat juga mengusulkan pelaksanaan Salat Istisqa atau salat meminta hujan apabila cuaca kering masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
“Kalau jemaahnya lebih dari 40 orang, mudah-mudahan hujan bisa turun. Karena sumber air kita sangat bergantung pada hujan,” tambahnya.










