“Kita harus menciptakan destinasi baru yang punya identitas. Jangan hanya mengandalkan mal dan hotel, tapi dorong wisata berbasis budaya dan komunitas,” tegasnya.
Ia mendorong paguyuban etnis seperti Sunda, Jawa, Melayu, dan Betawi untuk kembali menghidupkan seni dan budaya sebagai atraksi wisata. Selain memperkuat identitas daerah, langkah ini diyakini mampu membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM, seniman, hingga komunitas lokal.
Surya mencontohkan Puncak Beliung sebagai model wisata berbasis komunitas yang sukses menarik ribuan pengunjung sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di tingkat akar rumput.
“Ketika budaya hidup, ekonomi rakyat ikut bergerak,” katanya.
Dalam mendukung penguatan pariwisata sebagai sektor ekonomi, Surya menekankan peran strategis media dan agen perjalanan. Media diharapkan menjadi corong promosi yang konsisten, sementara agen perjalanan berperan membawa wisatawan mancanegara langsung ke destinasi budaya dan komunitas.
Melalui FJP Kepri, pihaknya juga berencana meningkatkan kapasitas jurnalis pariwisata dengan pelatihan bahasa asing serta penyediaan buku saku pariwisata. Upaya ini ditujukan agar promosi Pariwisata Batam memiliki standar internasional dan mampu bersaing di pasar global.
“Pariwisata harus memberi dampak ekonomi nyata, terutama bagi masyarakat bawah. Itulah tujuan utama pembangunan pariwisata berkelanjutan,” tutup Surya.(***)
\
