Dalam kesempatan yang sama, BI juga memaparkan perkembangan intermediasi perbankan. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2025 berada di batas bawah target, yakni dalam kisaran 8%–11% secara tahunan (year on year/yoy).
“Pertumbuhan kredit tahun 2025 berada di batas bawah kisaran 8%–11% yoy dan diperkirakan akan meningkat pada 2026,” kata Perry.
Hingga November 2025, kredit perbankan tercatat tumbuh 7,74% yoy. Perry menjelaskan, belum optimalnya pertumbuhan kredit disebabkan oleh permintaan yang masih tertahan, seiring sikap pelaku usaha yang cenderung wait and see terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik.
Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan justru menunjukkan tren yang positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh cukup tinggi, yakni 12,03% yoy per November 2025. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional.
Menurut Perry, lonjakan DPK didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain, Ekspansi likuiditas yang berlanjut; Pelonggaran Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) oleh BI; dan Ekspansi keuangan pemerintah, termasuk penempatan saldo anggaran lebih di perbankan.
“Perkembangan ini didorong oleh ekspansi likuiditas dan pelonggaran KLM yang besar oleh Bank Indonesia, serta ekspansi keuangan pemerintah,” ungkap Perry.
Untuk mempercepat pemulihan intermediasi perbankan, BI ke depan akan memperkuat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Fokus utama koordinasi tersebut adalah mendorong pertumbuhan kredit yang lebih berkualitas serta memperbaiki struktur suku bunga agar lebih mendukung dunia usaha dan sektor produktif.
Dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif namun terukur, BI optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga, sembari membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada tahun 2026. (***)
