Sementara itu, untuk total pergerakan penumpang sepanjang tahun 2025, BIB masih melakukan proses rekonsiliasi karena laporan final baru akan dirampungkan setelah penutupan data per 31 Desember. Namun Annang mengakui bahwa tren tahunan cenderung menurun, mengikuti pola nasional.
Di sisi lain, pergerakan kargo mengalami penurunan selama periode Nataru 2025. Hal ini disebabkan fokus maskapai yang lebih memprioritaskan pengangkutan penumpang pada momen puncak perjalanan akhir tahun.
“Ketika penumpang naik, kargo biasanya turun karena kapasitas pesawat lebih diarahkan ke penumpang. Khusus untuk Nataru 2025, kecenderungan kargo memang turun,” kata Annang.
Terkait arus balik, Annang memperkirakan puncak pergerakan akan terjadi pada 4 Januari 2026, namun ia tidak menutup kemungkinan adanya lonjakan tambahan pada 5 Januari 2026.
“Kami prediksi tanggal 4 Januari sebagai puncak arus balik. Tapi melihat pengalaman sebelumnya saat arus mudik, prediksi awal bisa bergeser. Minggu 21 diperkirakan ramai, ternyata membludak di 24. Jadi tanggal 5 Januari juga berpotensi ada spike,” jelasnya.
Annang menegaskan bahwa PT BIB terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi pengguna jasa, termasuk melalui program-program yang menonjolkan kedekatan emosional dengan penumpang.
“Kami ingin penumpang merasa happy dan membawa pengalaman positif, sehingga Bandara Hang Nadim menjadi bagian dari cerita perjalanan mereka,” tutupnya.(Iman Suryanto)
