Dalam forum tersebut, para pelaku industri pariwisata bersama pengelola bandara membahas berbagai peluang dan tantangan dalam menarik wisatawan domestik maupun internasional.
Strategi yang dibahas mencakup penguatan kerja sama antarpelaku industri, pengembangan paket wisata, promosi destinasi, peningkatan konektivitas penerbangan serta optimalisasi Bandara RHF sebagai pintu masuk utama wisatawan ke Pulau Bintan.
ASPPI Bintan Tanjungpinang menegaskan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam memperkuat ekosistem pariwisata daerah.
Kolaborasi antara maskapai penerbangan, agen perjalanan, pengelola destinasi, hotel, pelaku UMKM dan otoritas bandara dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi persaingan industri pariwisata yang semakin dinamis.
“Penguatan pasar wisatawan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara seluruh pelaku pariwisata, termasuk maskapai, agen perjalanan, destinasi, hotel, UMKM dan pengelola bandara,” demikian semangat yang mengemuka dalam forum tersebut.
Bagi ASPPI, pengembangan pariwisata juga harus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat lokal. Karena itu, peningkatan arus wisatawan diharapkan berjalan beriringan dengan pemberdayaan UMKM serta pelaku usaha yang menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Dengan posisi strategis Bintan sebagai salah satu destinasi unggulan Kepulauan Riau, penguatan akses melalui Bandara RHF diharapkan mampu membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
Forum FGD tersebut menjadi momentum untuk menyatukan langkah antara industri pariwisata dan pengelola transportasi udara, sehingga Bandara RHF tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Pulau Bintan.(**)











