Kenaikan harga minyak, lanjut Rafky, akan menimbulkan efek berantai terhadap berbagai komoditas lain. Sebab hingga kini minyak masih menjadi sumber energi utama dunia, sehingga hampir seluruh sektor industri akan terdampak, mulai dari manufaktur hingga logistik.
Selain tekanan biaya produksi akibat kenaikan energi, perang berkepanjangan juga berpotensi menekan permintaan global. Jika situasi tidak segera mereda, aktivitas ekspor bisa terganggu.
“Jika dalam waktu dekat tercapai kesepakatan dan perdamaian, dampaknya tentu tidak akan terlalu besar. Namun jika berlarut-larut, dampaknya bisa sangat signifikan. Ekspor akan terganggu dan permintaan dunia akan menurun,” katanya.
Bagi Batam yang dikenal sebagai kawasan industri dan basis produksi ekspor, pelemahan permintaan global tentu menjadi perhatian serius.
Di tengah ketidakpastian global, Rafky mengakui sebagian pelaku usaha kini cenderung menahan ekspansi dan investasi baru.
“Saat ini pengusaha menahan diri untuk melakukan investasi karena situasi dunia yang makin tidak menentu. Kita tentu berharap perang segera selesai,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai dampak langsung terhadap Batam saat ini belum terasa signifikan. Dunia usaha masih berjalan normal sembari melakukan kalkulasi risiko dan menyusun strategi mitigasi.
APINDO Batam mengimbau para pengusaha untuk tetap menjalankan aktivitas usaha seperti biasa, namun tetap siaga menghadapi berbagai kemungkinan.
“Untuk Batam sendiri, saat ini dampaknya belum begitu terasa. Kami menghimbau agar seluruh pengusaha tetap menjalankan aktivitas usahanya seperti biasa. Tidak perlu terlalu khawatir, tetapi tetap waspada dan siaga terhadap segala kemungkinan akibat perang Iran dengan AS,” tegas Rafky.
Pelaku usaha kini berharap stabilitas geopolitik global segera pulih agar iklim investasi dan perdagangan internasional tetap terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah seperti Batam tidak terdampak secara signifikan.(Iman)
