Inflasi Kepri Mei 2026 Terkendali, Tekanan Harga Pangan Masih Dominan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro,
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro,

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2026 tercatat masih dalam kondisi terkendali.

Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Kepri sebesar 0,38 persen, lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,43 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto Purubaskoro disela-sela Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (25/6/2026) mengatakan, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kepri berada di angka 3,92 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,08 persen.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Telkomsel Fasilitasi Mudik Gratis 1.100 Warga Lewat Gerakan Gotong Royong Digital

“Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Kepri mencapai 1,25 persen,” tegasnya.

Dari sisi wilayah, Kota Batam mencatat inflasi mtm sebesar 0,33 persen dengan inflasi tahunan 3,99 persen. Tanjungpinang mengalami inflasi bulanan lebih tinggi, yakni 0,59 persen dengan yoy mencapai 4,30 persen.

Sementara Kabupaten Karimun mencatat inflasi mtm tertinggi sebesar 0,63 persen, namun inflasi tahunannya relatif lebih rendah di angka 2,76 persen.

“Tekanan inflasi di Kepri pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Di antaranya cabai merah, tomat, sawi hijau, ketimun, serta daging ayam ras. Kenaikan harga ini sejalan dengan berakhirnya masa panen di sejumlah daerah pemasok utama dari Sumatera,” tegasnya lagi.

BACA JUGA:  Kuatkan Komitmen, BP Batam Bersama 21 FKPD Jaga Investasi di KPBPB Batam

Selain itu, tambahnya, faktor distribusi turut berperan, mengingat sebagian besar kebutuhan pangan Kepri masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa. Biaya logistik yang relatif tinggi turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *