Dengan teknologi tersebut, produksi rumput laut dapat dikembangkan tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan lahan budidaya di perairan laut. Sistem ini juga membuka peluang pengembangan usaha di kawasan pesisir yang memiliki keterbatasan akses langsung terhadap lokasi budidaya konvensional.
Sementara itu, Dehidrator Surya memanfaatkan energi matahari untuk membantu proses pengeringan hasil budidaya. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung proses pascapanen, menjaga kualitas produk, serta mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca dalam pengeringan secara konvensional.
Nyanyang menilai, penerapan teknologi dari proses budidaya hingga pascapanen menjadi bagian penting dalam membangun kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Yang kita harapkan bukan hanya masyarakat mampu membudidayakan rumput laut, tetapi juga bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan pengolahan yang baik, peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas akan semakin terbuka,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan dan pelatihan agar masyarakat mampu mengoperasikan fasilitas secara mandiri, mengelola produksi, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Peresmian fasilitas Rumah Budidaya Rumput Laut dan Dehidrator Surya tersebut dilanjutkan dengan pelatihan intensif bagi masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat keterampilan warga dalam menerapkan teknologi budidaya, mengelola hasil produksi, dan mengembangkan peluang usaha berbasis komoditas rumput laut.
Bagi Batam, pengembangan sektor ini berpotensi memperluas basis ekonomi masyarakat di luar sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian daerah.
Nyanyang berharap, program yang diinisiasi Tim Ekspedisi Patriot ITB 2026 tersebut tidak berhenti pada peresmian fasilitas, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
