Tri Joko menegaskan pentingnya penanganan cepat. “Kalau sanitasi tidak dibenahi, ekosistem pesisir akan rusak dan itu berarti ancaman langsung terhadap mata pencaharian nelayan,” katanya.
Ekonomi Rajungan dan Tangkapan Ikan Potensial, Tapi Nelayan Terjebak Ketergantungan
Sebanyak 69,3 persen warga Rempang bekerja sebagai nelayan tradisional. Komoditas rajungan memiliki nilai jual tinggi, terutama ketika sudah diolah menjadi daging kupas dengan harga mencapai Rp345.000 per kilogram di pasar regional.
Namun, nelayan lokal belum menikmati nilai tambah tersebut. Mereka masih bergantung pada modal dari pengepul (toke), sehingga posisi tawar mereka sangat lemah.
“Ketergantungan pada toke membuat nelayan tidak bisa naik kelas. Hilirisasi tidak akan berjalan kalau struktur ekonomi seperti ini dibiarkan,” jelas Tri Joko.
