Suahasil Nazara, Menteri Keuangan Baru

Kalimat ringan dalam percakapan antarkolega itu dua bulan lalu tentu tidak mempunyai arti politik apa-apa bagi saya.

Hari ini saya mengingatnya secara berbeda.

Sebab kegelisahan tentang ekonomi yang dahulu dibicarakan dari satu ruangan komisaris kini berada tepat di mejanya sendiri. Tidak ada lagi jarak antara memberi analisis dan mengambil keputusan. Tidak ada lagi kemewahan menjadi orang nomor dua yang dapat berdiri setengah langkah di belakang.

Bacaan Lainnya

Mulai hari ini, ketika penerimaan negara meleset, yield bergerak, rupiah tertekan, utang bertambah, dunia usaha mengeluhkan pajak, atau belanja pemerintah gagal menghasilkan pertumbuhan, nama Menteri Keuanganlah yang pertama dicari.

Itulah perbedaan paling nyata antara wakil dan menteri: kekuasaan bertambah, tetapi tempat untuk berlindung berkurang.

Suahasil mempunyai bekal panjang untuk mengurus ekonomi negara. Ia ekonom Universitas Indonesia, menempuh pendidikan lanjut di Cornell dan University of Illinois, menjadi profesor ekonomi, memimpin Badan Kebijakan Fiskal, kemudian bertahun-tahun menjadi Wakil Menteri Keuangan.

Ia bukan ekonom yang baru dipanggil masuk ke Lapangan Banteng; ia lumayan lama berada dalam ruang dan persoalan pertumbuhan ekonomi, pajak, utang, subsidi, defisit, dan politik.

Secara personal, saya merasakan kegembiraan kecil. Di berbagai grup WhatsApp dan media sosial masyarakat asal Nias, foto dan nama Suahasil beredar sejak siang. Ada ucapan selamat, doa, dan kebanggaan karena seorang yang berakar dari pulau kecil di Samudra Hindia dipercaya menjaga kas sebuah republik besar.

Saya memahami kebanggaan itu.

Tetapi harapan kepada Suahasil seharusnya melampaui Kepulauan Nias. Barangkali pengalaman intelektualnya mengenai ekonomi regional justru dapat membuatnya semakin memahami satu persoalan lama Indonesia: jarak antara pusat pertumbuhan dan daerah-daerah yang masih menunggu kesempatan.

Tugasnya memastikan keputusan dari Lapangan Banteng semakin mampu menjangkau Nias, Maluku, Papua, Jawa, Sumatera, dan seluruh sudut Republik secara adil.

Sore ini Suahasil kembali ke kantor yang sudah sangat dikenalnya. Yang berubah hanyalah berat tanggung jawab di pundaknya.

Lapangan Banteng telah menyaksikan banyak Menteri Keuangan datang dan pergi, krisis muncul dan surut, rupiah naik dan turun, serta APBN tumbuh menjadi ribuan triliun rupiah. Kini tempat itu menerima penjaga baru.

Pertanyaannya bukan apakah Profesor Suahasil mengenal Lapangan Banteng atau ia sudah berapa lama berada di sana.

Pertanyaannya adalah: apakah ia mampu membuat Indonesia kembali percaya kepada masa depannya?

Saya memilih menyimpan optimisme itu.

Selamat bekerja, Profesor Nazara. Jaga kepercayaan itu.

Dubai, 14 September 2026

Pos terkait