Kehadiran pembangkit ini diharapkan menjadi salah satu penopang kebutuhan energi listrik Batam seiring meningkatnya aktivitas industri, masuknya investasi baru, serta pertumbuhan kegiatan ekonomi.
Ketersediaan pasokan listrik yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya tarik Batam sebagai kawasan tujuan investasi.
Terlebih, kebutuhan energi diperkirakan terus meningkat sejalan dengan ekspansi industri dan pengembangan kawasan ekonomi.
Dengan demikian, pembangunan PLTU Tanjung Sauh tidak hanya menjadi bagian dari pengembangan sektor ketenagalistrikan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Batam.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa keunggulan geografis merupakan modal utama Batam dalam menarik investasi.
Meski memiliki keterbatasan sumber daya alam, posisi strategis Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menjadi peluang besar untuk memperkuat daya saing ekonomi.
“Batam memiliki keterbatasan sumber daya alam, tetapi di sisi lain Batam ditakdirkan memiliki keunggulan geografis yang luar biasa. Bagaimana kita menciptakan nilai tambah dari geografis Batam ini? Tidak keliru Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas,” ujarnya.
Amsakar mengungkapkan, realisasi investasi Batam saat ini telah mendekati Rp60 triliun. Sementara itu, BP Batam menetapkan target investasi sepanjang 2026 sebesar Rp70 triliun.
