Potensi EBT Sumbar Capai 10.054 MW, Pertamina NRE Buka Peluang Investasi Energi Hijau

Program kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada aspek entrepreneurship, tetapi juga mencakup keberlanjutan, lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).

“Nah, untuk itu beberapa program-program tidak hanya dari sisi entrepreneurship tapi juga sustainability, implementasi dari environment, social, dan governance. Bagaimana sustainability dari perusahaan itu nanti juga akan dipertimbangkan menjadi kurikulum yang akan dikembangkan di Unand,” kata Indira.

Pertamina juga ingin memperluas kesempatan perekrutan tenaga kerja dari berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan kerja sama dengan perguruan tinggi diharapkan dapat membantu kampus menyiapkan talenta-talenta terbaik yang siap memasuki dunia kerja.

Bacaan Lainnya

Gubernur Sumbar Dorong Investasi EBT

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan pengembangan potensi EBT membutuhkan kerja sama yang solid dan upaya ekstra dari berbagai pihak.

Saat ini, pemerintah daerah melakukan pemetaan potensi energi terbarukan untuk kemudian ditawarkan kepada investor. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga terus diperkuat.

Mahyeldi menyebut Sumbar memiliki potensi EBT yang melimpah dan tersebar di berbagai kabupaten/kota. Potensi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

Menurutnya, masa depan energi Sumbar tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam yang tersedia. Diperlukan alternatif melalui pengembangan energi terbarukan.

Namun, pemanfaatan potensi tersebut membutuhkan dukungan pengetahuan, teknologi, inovasi dan sumber daya manusia (SDM) unggul.

“Sumbar memiliki potensi energi terbarukan, termasuk energi angin. Namun, potensi tersebut tidak akan menjadi kekuatan tanpa dukungan riset, investasi, teknologi, dan SDM yang mampu mengelolanya,” ujar Mahyeldi.

Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi, termasuk dalam pengembangan sistem energi yang bersih, efisien, mandiri dan berkelanjutan.

“Saya ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta teknologi. Tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi generasi yang mampu merancang sistem energi yang lebih bersih, efisien, mandiri, dan berkelanjutan,” sambungnya.

Energi Surya untuk Mentawai

Mahyeldi turut menekankan pentingnya membangun sistem energi yang tangguh menghadapi risiko bencana sekaligus memastikan pemerataan akses energi hingga wilayah terpencil dan kepulauan.

Menurutnya, ketersediaan energi menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami akan mempersiapkan tenaga surya di Mentawai. Tidak mungkin industri bergerak dan ekonomi lebih cepat kalau ketersediaan energi masih belum terjamin,” ujarnya.

Ia menambahkan, transisi energi harus diwujudkan melalui aksi nyata, mulai dari pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan energi, sistem kelistrikan cerdas hingga inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri dan generasi muda dinilai menjadi kunci agar potensi EBT Sumbar tidak hanya menjadi angka dalam pemetaan, tetapi dapat berkembang menjadi sumber energi sekaligus kekuatan ekonomi baru bagi daerah.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait