PMI Manufaktur Indonesia September 2026 Naik ke 52,4, Ekspansi Berpeluang Berlanjut

Tekanan Biaya Mulai Mereda

Tekanan biaya manufaktur mulai mereda pada September. Inflasi harga input melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Meski demikian, Balchin mengatakan laju inflasi biaya masih berada di atas rata-rata jangka panjang survei. Kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku, harga dari pemasok, nilai tukar, kelangkaan, serta dampak kebijakan bahan bakar.

“Namun, laju inflasi masih berada di atas rata-rata jangka panjang survei, yang dikaitkan dengan kenaikan biaya bahan baku, kenaikan harga dari pemasok, pengaruh nilai tukar, kelangkaan, serta dampak kebijakan bahan bakar,” ujar Balchin.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, harga output manufaktur meningkat dengan laju paling lambat dalam enam bulan.

Produsen merespons kenaikan permintaan dan melambatnya inflasi harga input dengan kembali meningkatkan stok input pada September. Pembelian input baru juga meningkat pada laju tercepat sejak Februari.

Inventaris input meningkat pada laju terkuat sejak Maret 2024 setelah sebelumnya mengalami penurunan sepanjang April hingga Juli.

Rantai pasok secara umum tetap stabil. Rata-rata waktu pengiriman hanya sedikit lebih lama pada September.

Balchin mengatakan prospek sektor manufaktur Indonesia dalam 12 bulan ke depan masih sangat positif, meskipun tingkat optimisme sedikit menurun.

“Ekspektasi peningkatan produksi didukung oleh kenaikan permintaan, proyek baru, rencana ekspansi bisnis, serta harapan akan harga bahan baku yang lebih stabil,” tutupnya.

Pemerintah Jaga Daya Saing Industri

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan prospek positif PMI Manufaktur dalam 12 bulan ke depan mencerminkan keyakinan pelaku usaha yang masih tinggi.

“Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Airlangga melalui siaran pers, Kamis (1/10/2026).

Ke depan, pemerintah akan memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia.

Kementerian Keuangan menilai optimisme pelaku usaha juga dapat diperkuat oleh ekspansi manufaktur di sejumlah negara tetangga dan negara tujuan utama ekspor Indonesia.

PMI Manufaktur Thailand tercatat sebesar 54,3, China 52,1, dan Amerika Serikat 57,0.

Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan akan memperkuat koordinasi untuk mengendalikan harga, melindungi daya beli masyarakat, memperkuat aktivitas sektor riil dan investasi, serta meningkatkan daya saing perekonomian.

Koordinasi tersebut dilakukan dalam wadah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Dalam kerangka tersebut, APBN berperan untuk Menumbuhkan, Melindungi, dan tetap Kredibel, dengan memastikan kebijakan fiskal berfungsi sebagai katalis pertumbuhan sekaligus dikelola secara kredibel dan berkelanjutan,” bunyi keterangan resmi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan.

Pos terkait