Pertama, wiraga, yakni kemampuan penari dalam memperagakan gerakan secara tepat, menjaga kekompakan, menunjukkan kelenturan, serta mempertahankan kualitas gerakan selama penampilan.
Kedua, wirama, yaitu kesesuaian gerakan dengan tempo, ritme, dan ketukan musik pengiring, termasuk gondang sabangunan apabila digunakan dalam penampilan.
Ketiga, wirasa, yang mencakup ekspresi, penghayatan terhadap makna tortor, serta keselarasan penjiwaan di antara anggota tim.
Keempat, tata busana dan penampilan, termasuk penggunaan ulos, sortali, serta aksesori tradisional yang sesuai dengan ketentuan dan nilai-nilai budaya Batak.
Keempat aspek tersebut menjadi dasar bagi juri untuk menilai kualitas penampilan setiap peserta, sehingga tim yang lolos ke final tidak hanya unggul dalam teknik, tetapi juga mampu menunjukkan penghayatan terhadap seni dan tradisi Batak.
Setelah seluruh peserta menyelesaikan penampilan pada babak penyisihan, nilai akan diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah. Sepuluh tim dengan nilai tertinggi berhak melanjutkan kompetisi pada babak final 28 November 2026.
Albiner Simanjuntak Berharap Lomba Digelar Berkelanjutan
Koordinator tim tortor dewasa dari Simanjuntak BBI Batam Center, Albiner Simanjuntak, menyambut positif penyelenggaraan Lomba Piala Johannes Kennedi Aritonang.
