Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, mengatakan program ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri.
“Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove,” ujarnya.
Menurut Haris, saat ini telah terpetakan sedikitnya sembilan titik di Bintan yang menjadi pionir dalam pengembangan wisata menanam mangrove. Beberapa lokasi tersebut melibatkan kelompok masyarakat dan komunitas lokal, seperti Pengudang, Gudi Farm, serta kawasan yang dikelola komunitas Akar Bumi di Pandang Tak Jemu.
Pengembangan wisata berbasis mangrove ini juga melibatkan biro perjalanan dan sektor perhotelan untuk mempromosikan paket wisata yang menggabungkan rekreasi dengan konservasi lingkungan.
“Karakteristik Kepri ini unik. Potensinya adalah wisatawan dan mangrove. Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal,” tambahnya
Lebih dari sekadar objek wisata, mangrove memiliki fungsi vital sebagai benteng alami wilayah pesisir. Ekosistem ini mampu melindungi daratan dari abrasi, erosi, dan bahkan berperan dalam mitigasi bencana seperti gelombang ekstrem dan tsunami.
