Pantun Naik Kelas, Perwara Indonesia Dorong MC Batam Hidupkan Tradisi Lisan Nusantara

Pengakuan internasional pun menguatkan posisi pantun. Pada 17 Desember 2020, UNESCO menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan melalui nominasi bersama Indonesia–Malaysia.

Narasumber kedua, Kasmury, membongkar mitos lama bahwa pantun hanya lahir dari bakat alami. Menurutnya, pantun memiliki pola yang dapat dilatih secara sistematis.

Ia menjelaskan bahwa pantun terdiri dari sampiran sebagai pembuka suasana, isi sebagai pesan utama, serta kaidah bunyi yang menjaga keindahan ritme. Kunci keberhasilan seorang MC bukan menghafal ratusan pantun, melainkan memahami pola dan konteks acara.

Bacaan Lainnya

“Pantun harus dilatih dari situasi nyata. Murid diajak mengamati acara, mencatat kata kunci, lalu merangkai pantun dari pengalaman,” jelasnya.

Tokoh adat Zarlis menutup diskusi dengan praktik langsung. Ia melantunkan pantun spontan yang langsung memancing tawa dan tepuk tangan peserta. Momen itu membuktikan bahwa pantun bukan sekadar teks, melainkan seni performatif yang mampu mencairkan suasana.

Menurutnya, pantun bekerja dalam tiga fungsi sekaligus: membuka komunikasi, menghadirkan keindahan bahasa, dan menyampaikan nasihat secara halus.

“Inilah sebabnya pantun penting bagi MC di Tanah Melayu. Ia menurunkan ego panggung dan menaikkan martabat audiens,” katanya.

Talkshow ini juga melahirkan gagasan konkret: gerakan “Pantun to School to Campus”. Perwara Indonesia mendorong agar pantun, gurindam, dan seloka menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan kampus.

Pos terkait