Teriakan tersebut menjadi simbol harapan agar program yang dinilai membantu kebutuhan gizi siswa tidak berhenti di tengah jalan.
Di balik kemeriahan itu, terselip kisah sederhana yang justru menggambarkan keseharian seorang pelajar.
Seorang siswa SMP yang ditemui di lokasi hanya tersenyum ketika ditanya bagaimana perasaannya mengikuti pawai sejak pagi.
“Belum sarapan dan masih ngantuk,” ucapnya singkat.
Jawaban polos itu justru menjadi ironi kecil di tengah kampanye tentang pentingnya pemenuhan gizi bagi anak sekolah.
Sementara itu, ditempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, mengatakan pawai tersebut lahir dari aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat, terutama para orang tua yang berharap Program MBG tetap berjalan meski sebelumnya sempat mengalami kendala dalam pelaksanaannya.
Menurut Hendri, persoalan tata kelola yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem, bukan menjadi alasan menghentikan manfaat yang telah dirasakan para siswa.
“Kami melaksanakan kegiatan pawai MBG. Ini dalam rangka menindaklanjuti masukan dan keluhan dari orang tua karena beberapa waktu lalu kita ketahui bersama program MBG sempat tersendat atau dihentikan sementara karena suatu hal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apabila terdapat kekurangan dalam pengelolaan program, maka yang perlu diperbaiki adalah tata kelolanya.
