Kami sangat paham bagaimana merawat marwah berorganisasi. Kami menghormati strukturnya, kami patuhi jengkal demi jengkal regulasinya. Kami tidak pernah membakar jembatan yang pernah kami seberangi, tidak pula meludahi atap rumah lama yang pernah menaungi.
Jurnalisme yang kami peluk adalah jurnalisme yang mendidik jiwa, bukan jurnalisme yang merengek dan mencari musuh di dalam selimut prasangka yang dingin. Bukan pula jurnalisme yang mengadu domba demi kepentingan pribadi.
KJK Bukan Tempat bagi Jiwa yang Jembalang
Engkau menutup dongengmu dengan metafora yang teramat getir, menyebut-nyebut tentang jembalang yang kalut dan rumah hantu yang sunyi. Oh, betapa malangnya tuduhan itu.
Lihatlah ruko tiga lantai di Komplek Ruko Central Kencana No. 20 Tanjungpinang yang berdiri dengan gagah bertuliskan “Komunitas Jurnalis Kepri”. Tempat itu adalah monumen dari sebuah dedikasi yang berdarah-darah. Ia dibangun dari susunan batu, semen, keringat, dan kehormatan yang nyata—bukan dari fatamorgana, bukan pula dari ilusi kebencian.
Rumah itu bukan sarang jembalang, bukan pula tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang kalah dan kalut. Menuduhnya sebagai tempat terkutuk hanyalah cermin dari kekalutan pikiran penulisnya sendiri, yang tengah tersesat dan kehilangan arah di persimpangan jalan nuraninya.
Rumah itu telah menjadi saksi sejarah yang anggun. Di sanalah, pernah duduk Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, serta sejumlah petinggi negeri.
