OJK Ingatkan Bahaya FOMO Investasi Digital, Masyarakat Diminta Cek Legalitas dan Risiko

AI dan Blockchain Percepat Inovasi Keuangan

Selain tokenisasi, perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), Big Data, komputasi awan (cloud computing), dan teknologi buku besar terdistribusi juga membuka peluang baru bagi industri keuangan.

Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan pengembangan produk dan layanan keuangan yang semakin inovatif. Namun, kemajuan teknologi harus disertai kesiapan sumber daya manusia dan kerangka regulasi yang mampu mengikuti perkembangan industri.

Bacaan Lainnya

Adi menegaskan, regulator, pelaku industri, pemerintah, dan perguruan tinggi perlu memperkuat kolaborasi untuk membangun ekosistem keuangan digital yang adaptif, kredibel, dan berkelanjutan.

Sinergi tersebut diperlukan agar inovasi yang berkembang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Di sisi lain, mekanisme regulatory sandbox menjadi salah satu instrumen OJK untuk memfasilitasi pengujian dan pengembangan inovasi teknologi sektor keuangan dengan tetap memperhatikan aspek regulasi, pengelolaan risiko, serta perlindungan konsumen.

Melalui mekanisme ini, kesiapan inovasi dapat dinilai sebelum manfaatnya diperluas kepada masyarakat.

OJK Ingatkan Risiko Investasi Digital

Di tengah terbukanya peluang investasi digital, OJK juga mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah tergiur dengan penawaran keuntungan yang tidak masuk akal.

Adi menekankan pentingnya prinsip legal dan logis sebelum mengambil keputusan investasi. Masyarakat perlu memastikan legalitas penyelenggara, memahami karakteristik produk, serta menilai risiko yang mungkin timbul.

“Dalam berinvestasi, kita harus memperhatikan dua aspek utama, yaitu legal dan logis. Pastikan produk dan penyelenggaranya memiliki legalitas yang jelas serta jangan mudah tergiur dengan penawaran keuntungan yang tidak masuk akal,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar melakukan riset secara mandiri dan tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti orang lain atau takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO).

Menurutnya, literasi keuangan digital menjadi bekal penting agar generasi muda mampu memilah informasi, memahami risiko, dan menentukan pilihan keuangan secara bijak.

Selain itu, kebiasaan menabung dan berinvestasi sesuai kebutuhan, kemampuan finansial, serta profil risiko perlu dibangun sejak dini untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Pos terkait