“Investasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas usaha, tetapi juga bagaimana kita memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia dengan baik. Ketersediaan air yang memadai akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya,” tambahnya.
Amsakar berharap kolaborasi pemerintah dan sektor swasta terus diperkuat agar pembangunan infrastruktur dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan investasi.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan fasilitas pendukung industri akan memberikan dampak positif terhadap iklim usaha, aktivitas ekonomi, serta peluang penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan seluruh pihak agar pembangunan SWRO Kabil dapat berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Pembangunan SWRO Kabil menegaskan arah investasi Citrama Group yang tidak hanya berfokus pada pengembangan kawasan industri, tetapi juga penyediaan infrastruktur pendukung untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis.
Di tengah berkembangnya industri data center, ketersediaan air, listrik, dan jaringan telekomunikasi menjadi faktor yang semakin menentukan kesiapan suatu kawasan dalam menarik investasi teknologi.
Melalui proyek senilai sekitar Rp600 miliar tersebut, Citrama Group berupaya memperkuat fondasi infrastruktur industri sekaligus mendukung pengembangan ekosistem ekonomi digital Batam.
Jika seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana, fasilitas SWRO Kabil diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pasokan air dan memberikan dukungan bagi ekspansi industri di kawasan Kabil dan sekitarnya.
