Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor industri. Pemadaman listrik juga akan menghentikan pompa distribusi air bersih, mengganggu jaringan internet, hingga membuat ribuan rumah tangga kehilangan akses memasak menggunakan gas.
“Kalau listrik mati, pompa air berhenti. Internet ikut terganggu. Aktivitas masyarakat bisa lumpuh karena semuanya saling terhubung,” katanya.
Jaringan gas PGN Batam saat ini menghubungkan berbagai kawasan strategis, mulai dari Muka Kuning, Batu Ampar, Simpang menuju kawasan industri, Kabil, Eco Green, hingga kawasan sekitar Bandara Hang Nadim. Sejumlah pembangkit listrik utama di kawasan Kabil juga bergantung pada pasokan gas dari jaringan tersebut.
Karena itu, setiap pekerjaan konstruksi maupun penggalian di sekitar jalur pipa harus dilakukan dengan pengawasan ketat agar tidak merusak infrastruktur bawah tanah yang bernilai strategis tersebut.
PGN juga terus memperluas jaringan distribusi gas. Tahun ini, pengembangan diarahkan ke sejumlah kawasan yang selama ini belum terlayani, termasuk wilayah sekitar bandara dan kawasan permukiman baru yang pertumbuhannya semakin pesat.
Perluasan jaringan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi Batam yang terus berkembang sebagai pusat industri, logistik, dan investasi nasional.
Di tengah pesatnya pembangunan kota, keberadaan jaringan gas sepanjang 273 kilometer tersebut menjadi bukti bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya ditopang gedung-gedung tinggi dan kawasan industri, tetapi juga oleh infrastruktur energi yang bekerja senyap di bawah permukaan tanah.
Tanpa banyak terlihat, pipa-pipa itu terus mengalirkan energi yang menjaga roda industri berputar, rumah-rumah tetap menyala, dan Batam tetap bergerak sebagai salah satu motor ekonomi Indonesia.(Iman Suryanto)
