Membangun Jurnalisme Berdaya dan Berkualitas di Era Digital

Para peserta tampak antusias, beberapa mencatat, sebagian lagi berdiskusi kecil tentang tantangan di lapangan: banjir informasi, tekanan klik, hingga keterbatasan ruang redaksi. Namun wajah-wajah mereka memperlihatkan optimisme baru—sebuah tanda bahwa pesan Afut mengena.

Di balik terselenggaranya acara ini, ada komitmen kuat dari BI Kepri untuk memperkuat kualitas pemberitaan di daerah. Lembaga ini memahami bahwa media adalah mitra strategis yang turut membentuk persepsi publik terhadap ekonomi dan kebijakan.

Kegiatan capacity building menjadi wujud kolaborasi untuk memastikan jurnalisme lokal tetap bernapas sehat di era disrupsi.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Bank Indonesia: Hingga Mei, Transaksi QRIS di Kepri Capai 23,64 Juta Senilai Rp3,34 Triliun

Dalam diskusi penutup, pihak BI Kepri menyampaikan harapannya: jurnalis dapat membawa pulang lebih dari sekadar catatan pelatihan—melainkan energi baru untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga integritas profesi.

Di luar ruang pelatihan, cahaya senja mulai turun di Lagoi. Para jurnalis bubar perlahan, sebagian masih membicarakan materi, sebagian lagi menyalakan ponsel untuk mencoba ide baru yang mereka dapatkan hari itu.

Satu hal terasa jelas: industri media mungkin berubah, namun semangat jurnalisme tidak pernah padam. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita, ada insan-insan yang terus berusaha menjadi lebih peka, lebih relevan, dan lebih bertanggung jawab pada publik.

BACA JUGA:  Pertengahan 2025, BI : Transaksi QRIS di Kepri Capai Rp4,14 Triliun

Capacity building BI Kepri 2025 bukan sekadar pelatihan—ia adalah titik refleksi. Sebuah langkah kecil, namun penting, dalam perjalanan panjang menjaga martabat jurnalisme di era digital.(Iman)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *