Brankas Amerika Mulai Diperiksa
Amerika Serikat belum kehilangan kedudukannya sebagai pusat sistem keuangan dunia. Dollar masih menjadi mata uang cadangan utama, sedangkan US Treasury tetap merupakan pasar obligasi terbesar dan paling likuid. Namun, kepercayaan yang selama ini diberikan hampir tanpa syarat mulai diperiksa kembali.
Utang federal Amerika telah menembus sekitar 40,1 triliun dollar AS. Biaya bunga tahunannya mencapai kurang lebih 1,17 triliun dollar AS atau hampir seperlima belanja pemerintah federal. Imbal hasil Treasury sepuluh tahun juga telah menyentuh sekitar 5 persen, level tertinggi sejak 2007. Artinya, pasar meminta kompensasi semakin mahal untuk membiayai Pemerintah Amerika.
Beberapa negara dan lembaga investasi besar mulai melakukan diversifikasi. Pengelola Government Pension Fund Global Norwegia, misalnya, mengusulkan agar porsi obligasi pemerintah dalam indeks obligasinya diturunkan dari 70 persen menjadi 50 persen. Tetapi perlu diluruskan bahwa angka 2,3 triliun dollar AS merupakan keseluruhan aset kelolaan GPFG, bukan nilai US Treasury yang akan dijual. Estimasi pengurangan kepemilikan Treasury hanya sekitar 80 miliar dollar AS dan masih berupa rekomendasi.
Belanda memindahkan sekitar 86 ton emas dari Amerika Serikat dan Kanada ke London untuk meningkatkan likuiditas dan kesiapan menghadapi krisis. Prancis menjual sekitar 129 ton emas yang tersimpan di New York dan membeli kembali jumlah setara di Eropa. Jerman telah lebih dahulu memindahkan sekitar 300 ton emas dari New York ke Frankfurt melalui program yang diselesaikan pada 2017.
Tiongkok juga terus mengurangi kepemilikan Treasury. Pada Juli 2026, nilainya turun menjadi sekitar 618 miliar dollar AS, terendah sejak 2008. Namun, semua itu belum berarti dunia meninggalkan dollar. Yang terjadi adalah diversifikasi risiko: tidak semua telur lagi ingin ditempatkan dalam satu keranjang, sekalipun keranjang itu bertuliskan “Made in America”.
Masalahnya bukan Amerika akan bangkrut besok pagi. Amerika menerbitkan utang dalam mata uangnya sendiri, memiliki kapasitas perpajakan besar, ekonomi yang inovatif, serta pasar keuangan yang dalam. Masalahnya adalah biaya untuk mempertahankan keistimewaan tersebut terus meningkat.
