“Orang itu datang kalau punya kedekatan—entah budaya, tradisi, atau kearifan lokal.” tegasnya.
Di Kepri, tambahnya, hanya sedikit objek wisata yang dikelola dan dipromosikan berbasis budaya lokal. Ia memberi contoh Pucak Beliung, yang dikembangkan komunitas dan berhasil menarik kunjungan reguler.
“Itu saja bisa mengirim wisatawan setiap bulan. Bayangkan kalau ada banyak destinasi seperti itu,” ujarnya penuh harap.
Surya mengajak beragam paguyuban contohnya Sunda, Jawa, Batak, dan lainnya turut membangun sajian budaya yang bisa dinikmati wisatawan.
“Kepri ini miniatur Indonesia, keberagaman itu aset, bukan sekadar cerita!” tambahnya.
Surya juga meyakini, peran jurnalis adalah penghubung antara potensi dan dunia luar. Karena itu Forum Jurnalis Pariwisata akan menjadi wadah kolaborasi strategis.
“Tanpa pemberitaan, destinasi itu tak akan dikenal. Teman-teman media akan menjadi corong kita semua,” Jelasnya.
Surya mengakhiri pernyataannya dengan penuh optimisme: “Mari bersama kita ciptakan destinasi baru. Budaya-budaya baru untuk dipromosikan. Wisata di Kepri harus bergerak, dan kita semua ada di dalamnya.” tutupnya. (Iman Suryanto)
