Lima Program Unggulan Kementrans
Paradigma baru pembangunan transmigrasi tersebut dijalankan melalui lima program unggulan Kementrans.
Pertama, Trans Tuntas, yang berfokus pada pemberian kepastian hukum atas lahan. Kedua, Trans Lokal, yang memastikan masyarakat setempat menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat pembangunan.
Ketiga, Trans Patriot, yang menghadirkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi ke kawasan transmigrasi. Keempat, Trans Karya Nusantara, yang mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja sebelum perpindahan penduduk.
Kelima, Trans Gotong Royong, yang memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
“Transmigrasi hari ini tidak bisa berjalan sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia harus dibangun bersama dalam satu ekosistem,” tegas Iftitah.
Kolaborasi tersebut terlihat dari keterlibatan berbagai kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, mitra pembangunan, serta masyarakat dalam kegiatan TED.
1.476 Patriot Diterjunkan ke 53 Kawasan
Kementrans juga menaruh perhatian pada penguatan sumber daya manusia di kawasan transmigrasi. Sebanyak 1.476 Patriot saat ini ditugaskan di 53 kawasan transmigrasi prioritas di seluruh Indonesia.
Iftitah meminta para Patriot tidak sekadar menghasilkan penelitian dan laporan. Mereka diharapkan memahami potensi daerah, menemukan persoalan di lapangan, menerapkan ilmu pengetahuan, mendampingi masyarakat, serta menghubungkan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, dan pasar.
“Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” ujarnya.
Iftitah juga menegaskan pembangunan kawasan transmigrasi tidak boleh menggusur atau menjadikan masyarakat lokal sebagai penonton. Masyarakat setempat harus menjadi tuan rumah, pelaku utama, sekaligus penerima manfaat pembangunan.
Dengan demikian, keberhasilan transmigrasi tidak lagi diukur berdasarkan jumlah penduduk yang dipindahkan atau luas lahan yang dialokasikan. Ukuran utamanya adalah nilai tambah yang tercipta, lapangan kerja produktif, peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan usaha lokal, serta kemampuan kawasan berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan ini, transmigrasi diarahkan bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan terlebih dahulu membangun alasan ekonomi yang kuat agar suatu wilayah layak didatangi, dihuni, dan dikembangkan.
SUMBER: KOMPAS
