Alarm baru dari PISA
Hasil PISA 2025 yang diterbitkan OECD pada 8 September 2026 memberikan peringatan yang sulit diabaikan. Skor rata-rata Indonesia tercatat 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca—semuanya jauh di bawah rata-rata OECD. Dibandingkan 2022, hasilnya tidak berubah secara signifikan dan masih berada di bawah capaian Indonesia pada 2015.
Masalahnya bahkan lebih jelas apabila dilihat dari tingkat kompetensi minimum.
Hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam sains, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74 persen. Dalam matematika, proporsinya hanya 17 persen, dibandingkan 65 persen di OECD. Dalam membaca, hanya 27 persen yang mencapai tingkat minimum, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen. Siswa Indonesia yang mencapai kategori berkinerja tinggi hampir tidak terlihat dalam ketiga bidang tersebut.
Angka partisipasi sekolah dapat meningkat. Gedung dapat dibangun. Kurikulum dapat beberapa kali diganti. Nama program dapat dibuat semakin menarik.
Namun, anak yang berada di sekolah belum tentu benar-benar belajar.
Inilah perbedaan antara schooling dan learning. Yang pertama menghitung kehadiran dalam sistem pendidikan. Yang kedua mengukur apakah sistem tersebut menghasilkan kemampuan.
Indonesia tampaknya cukup rajin mengukur berapa banyak anak masuk sekolah, berapa banyak mahasiswa lulus, dan berapa banyak sertifikat diterbitkan. Persoalannya, ijazah tidak otomatis dapat membaca persoalan, sertifikat tidak otomatis dapat mengoperasikan teknologi, dan gelar tidak selalu mampu meningkatkan produktivitas.
Bonus demografi yang tidak menunggu
Keterlambatan memperbaiki kualitas manusia menjadi semakin berbahaya karena jendela demografi Indonesia tidak terbuka selamanya.
Hasil SUPAS 2025 menunjukkan bahwa proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai 11,97 persen. BPS menyatakan Indonesia telah berada dalam fase ageing population. Rasio ketergantungan juga meningkat menjadi 45,05 persen, sementara tingkat fertilitas berada pada 2,13—mendekati tingkat penggantian penduduk.
Berbagai proyeksi menempatkan berakhirnya bonus demografi pada rentang pertengahan 2030-an hingga dekade 2040-an. Bappenas dan UNFPA juga mengingatkan bahwa jendela bonus tersebut sedang mendekati penutupan dan peningkatan penduduk lanjut usia akan menaikkan tekanan antargenerasi.
