Amsakar menjelaskan, struktur investasi Batam kini mulai bergeser dari sektor jasa menuju industri manufaktur berteknologi tinggi.
“Perubahan ini menunjukkan arah pembangunan ekonomi Batam semakin kuat. Industri manufaktur berteknologi tinggi kini menjadi salah satu sektor yang paling diminati investor, disusul industri kimia dan farmasi, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi,” katanya.
Berdasarkan data semester I 2026, lima sektor dengan realisasi investasi terbesar meliputi jasa lainnya sebesar Rp6,09 triliun, industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp6,07 triliun, industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun, perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp3,52 triliun, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi Rp2,55 triliun.
Dari sisi negara asal investasi, Singapura masih menjadi investor terbesar di Batam dengan nilai investasi mencapai Rp10,89 triliun, disusul Hong Kong sebesar Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, dan Amerika Serikat sebesar Rp1,02 triliun.
Meski demikian, Amsakar mengakui sektor jasa masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperkuat. Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Batam memperoleh skor 4,04, namun indikator persaingan sektor jasa pada Pilar Pasar Produk masih berada di angka 2,91 dari skala lima.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh struktur ekonomi Batam yang masih didominasi sektor industri pengolahan atau manufaktur dengan kontribusi 57,01 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disusul sektor konstruksi sebesar 20,23 persen.
Untuk itu, Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam terus memperkuat sektor jasa melalui pengembangan logistik, jasa profesional, ekonomi digital, industri kreatif, integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri, peningkatan kompetensi tenaga kerja vokasi, hingga perluasan akses pembiayaan bagi UMKM dan perusahaan rintisan.
“Fokus kami bukan hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi memastikan investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya saing daerah, dan menggerakkan perekonomian Batam secara berkelanjutan,” tutup Amsakar.
SUMBER: BISNIS INDONESIA
