Inflasi Kepri Melandai di Maret 2026, BI: Stabilitas Harga Terjaga di Tengah Momentum Idulfitri

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi

Perbedaan dinamika harga ini mencerminkan variasi permintaan dan distribusi komoditas antarwilayah selama periode HBKN Idulfitri.

Inflasi Maret 2026 terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,48% (mtm) dengan andil 0,13%.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan terhadap Udang basah, Bayam, dan Daging ayam ras.

Bacaan Lainnya

“Lonjakan permintaan komoditas pangan menjelang Idulfitri merupakan pola musiman. Yang penting adalah memastikan pasokan tetap terjaga agar kenaikan harga tidak berlebihan,” kata Rony.

Tekanan inflasi berhasil diredam oleh dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa deflasi 1,12% (mtm), dipicu penurunan harga emas perhiasan akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global tinggi.

Kelompok transportasi juga deflasi 0,38% (mtm), seiring penurunan tarif angkutan udara dan laut akibat kebijakan diskon transportasi selama Idulfitri.

“Stimulus transportasi terbukti efektif menahan tekanan inflasi musiman, sekaligus mendukung mobilitas masyarakat selama libur Lebaran,” tambahnya.

Bank Indonesia bersama TPID terus memperkuat kolaborasi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Sepanjang Maret, sejumlah langkah dilakukan diantara,High Level Meeting TPID Kepri dan Karimun, Edukasi inflasi kepada masyarakat, dan Publikasi iklan layanan masyarakat.
Menurut Rony, langkah tersebut penting untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Memasuki April 2026, Bank Indonesia mengingatkan sejumlah faktor risiko inflasi yang berasal dari potensi El Nino lemah–moderat hingga semester II 2026, dan Normalisasi tarif transportasi pasca diskon Lebaran.(**)

Pos terkait