“Kami memprediksi pada tanggal 18 Maret jumlah penumpang datang dan berangkat bisa mencapai sekitar 18 ribu orang,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, pengelola bandara menyiapkan berbagai strategi operasional dengan belajar dari pengalaman angkutan Lebaran tahun sebelumnya serta periode Natal dan Tahun Baru 2025.
Salah satu antisipasi yang dilakukan adalah menghadapi potensi perubahan jenis pesawat dari maskapai. Dalam beberapa kasus, maskapai dapat mengganti pesawat berbadan sempit (narrow body) menjadi pesawat berbadan lebar (wide body) dengan kapasitas penumpang yang jauh lebih besar, namun tetap pada jadwal penerbangan yang sama.
Sebagai contoh, penerbangan rute Batam–Jakarta yang biasanya menggunakan pesawat Boeing 737-900 dengan kapasitas sekitar 200 penumpang dapat diganti dengan pesawat yang mampu mengangkut hingga 400 penumpang.
“Kita harus mengantisipasi perubahan seperti itu. Jam penerbangannya sama, tapi jumlah penumpangnya bisa dua kali lipat. Ini tentu berpengaruh pada antrean di area check-in,” jelas Annang.
Saat ini Bandara Hang Nadim memiliki 28 konter check-in yang dinilai cukup untuk melayani penumpang. Namun jika dalam satu waktu terdapat lonjakan penumpang dalam jumlah besar, antrean tetap berpotensi terjadi sehingga pengelola bandara menyiapkan langkah pengaturan operasional tambahan.
Selain penerbangan domestik, penerbangan internasional menuju kawasan Timur Tengah juga masih berjalan normal. Hingga saat ini belum ada informasi pembatalan penerbangan.
“Untuk penerbangan Timur Tengah masih berjalan normal. Kedatangan dijadwalkan setiap Rabu dan keberangkatan pada hari Sabtu, dua kali dalam seminggu,” tutupnya. (Iman Suryanto)
