“Air itu bukan bonus, bukan fasilitas mewah. Itu hak dasar. Kalau hampir setahun warga tidak mendapatkan air bersih, maka ini sudah masuk kategori kegagalan pelayanan,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, Koordinator Aksi Syamsudin menyampaikan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) Tanjung Sengkuang dari atas mobil komando.
Tritura itu mencakup normalisasi aliran air tanpa hambatan, pemerataan distribusi air di seluruh wilayah Batam, serta desakan agar Kepala BP Batam dan Wakilnya mundur apabila tidak mampu menjamin kebutuhan dasar warga.
“Air adalah hak asasi manusia. Jika tidak mampu memenuhinya, jangan mempertahankan jabatan,” seru Syamsudin di hadapan massa.
Ia juga mengkritisi penurunan kualitas layanan air sejak pengelolaan beralih ke PT Air Batam Hilir (ABH). Menurutnya, kondisi distribusi air kini jauh lebih buruk dibandingkan pengelola sebelumnya, baik dari sisi kontinuitas maupun kualitas.
Osman Hasyim kembali menekankan bahwa persoalan air tidak boleh disederhanakan sebagai masalah teknis semata. Ia menilai ada persoalan serius dalam perencanaan, pengawasan, dan komunikasi dengan masyarakat.
“Yang dibutuhkan warga bukan alasan, bukan saling lempar tanggung jawab, tapi kepastian. Kapan air normal? Apa solusi konkretnya? Itu yang harus dijawab secara terbuka,” kata Osman.
