“Ajang sekelas Piala Wali Kota, yang membawa nama pemerintah daerah dan menjadi sorotan publik, semestinya memiliki standar penyelenggaraan lebih profesional. Mulai dari pemisahan area pendukung, jalur evakuasi, jumlah personel pengamanan, hingga kapasitas venue, seluruhnya dianggap tidak dipersiapkan secara matang, ” Terang Tony, pecinta olahraga Bola Voli saat ditemui awak media pada Senin (18/5/2026) malam.
“Ini final turnamen besar, tapi pengamanan dan tata kelola tribun seperti pertandingan biasa. Sangat disayangkan,” tambahnya.
Kritik juga mengarah pada pemilihan venue pertandingan yang dinilai tidak representatif untuk menampung antusiasme ribuan penonton.
“Area tribun yang terbatas membuat suporter kedua kubu berdesakan dalam satu titik, sehingga potensi gesekan sangat mudah terjadi, ” Terangnya.
Sebelumnya, saksi mata bernama Riama menyebut kericuhan bermula dari dugaan aksi provokatif salah satu pemain di lapangan. Libero tim PGRI disebut melakukan gestur yang memancing emosi suporter BP Batam.
“Langsung anak-anak panas dan terjadi lemparan botol air mineral. Akhirnya rusuh,” kata Riama.
Situasi sempat mereda sebelum akhirnya kembali memanas ketika suporter PGRI membalas lemparan ke arah tribun lawan. Akibatnya, botol-botol mineral mengenai penonton umum yang berada di sekitar lokasi.
