Jika seluruh potensi dapat dimanfaatkan secara optimal, total nilai ekonomi sektor perikanan Kepri diperkirakan dapat menembus Rp33 triliun per tahun.
Osman menyebut angka tersebut sebagai gambaran nyata bahwa sektor perikanan Kepri dapat menjadi “tambang emas baru” bagi perekonomian daerah.
Selain perikanan tangkap, potensi besar juga datang dari sektor budidaya laut melalui keramba jaring apung (KJA). Dengan asumsi pemanfaatan hanya 5% dari lahan potensial, estimasi nilai ekonomi budidaya laut Kepri dapat mencapai Rp26,62 triliun per tahun.
Rincian potensi pendapatan budidaya berdasarkan wilayah antara lain Natuna Rp9,37 triliun, Lingga Rp6,30 triliun, Kepulauan Anambas Rp6,25 triliun, Batam dan Bintan Rp3,40 triliun serta Karimun Rp1,30 triliun.
Komoditas unggulan yang dinilai memiliki prospek pasar global meliputi kerapu, kakap, bawal, dan ikan cermin.
“Dengan pemanfaatan yang masih sangat kecil saja, nilai ekonominya sudah luar biasa. Bayangkan jika pengembangan dilakukan secara masif dan terintegrasi,” jelas Osman.
Meski potensinya besar, Osman mengingatkan bahwa pengembangan ekonomi biru membutuhkan dukungan lintas sektor. Ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur logistik, pelabuhan perikanan modern, rantai dingin (cold chain), hingga akses pembiayaan bagi nelayan dan pembudidaya.
