Alih-alih sekadar meliput, KJK melakukan peninjauan langsung ke Sungai Tiram. Mereka berdiskusi dengan warga, melihat kondisi lapangan, dan merancang aksi penanaman mangrove sebagai kegiatan berkelanjutan.
Aksi ini juga diselaraskan dengan program nasional Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang diinisiasi Kementerian Kehutanan. Kolaborasi ini mempertemukan inisiatif akar rumput dengan kebijakan negara, sesuatu yang jarang terwujud tanpa jembatan komunikasi yang kuat.
Menghadirkan Menteri Kehutanan ke Desa Penaga bukan soal prestise atau pencitraan. Bagi KJK, ini adalah bentuk pengakuan negara terhadap inisiatif masyarakat dan peran pers dalam mendorong perubahan.
“Yang kami kejar adalah keberlanjutan, bukan sekadar momentum,” tegas Ady.
Kehadiran Raja Juli Antoni di Sungai Tiram akan menghadirkan gambaran yang berbeda dari acara pemerintahan pada umumnya. Tanpa podium megah, tanpa jarak formal hanya kerja bersama di pesisir.
Bagi warga Desa Penaga, momen ini adalah pengakuan atas perjuangan panjang menjaga lingkungan. Bagi insan pers, ini menjadi penegasan bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab sosial yang melampaui teks dan foto.
Pers tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga mampu menjadi penghubung antara kepentingan masyarakat dan perhatian negara.
Pada hari penanaman nanti, ratusan bibit mangrove akan ditanam di Sungai Tiram. Namun yang diharapkan tumbuh bukan hanya akar dan daun, melainkan kesadaran kolektif bahwa menjaga pesisir adalah tanggung jawab bersama.
Dari Desa Penaga, Bintan, pers mengirim pesan yang sederhana namun kuat:
“Jurnalisme bukan hanya tentang memberitakan perubahan, tetapi juga tentang ikut menumbuhkannya”. (IMAN )
