Dari Pekarangan ke Pasar, Pertamina Patra Niaga Bantu KWT Batam Bangkitkan Ekonomi Perempuan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)inflasi Kepri pada Agustus 2026 mencapai 3,87% secara tahunan, dengan Batam bahkan menyentuh sekitar 4,03%.  Tekanan harga ini banyak dipicu oleh komoditas kebutuhan pokok, terutama pangan—yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Bank Indonesia juga mencatat, inflasi di Kepri masih menjadi tantangan utama, terutama karena tingginya permintaan pangan dan keterbatasan produksi lokal.

Di sinilah peran kelompok seperti kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam menjadi penting. Apa yang mereka lakukan bukan sekadar berkebun, tetapi menciptakan ketahanan pangan skala mikro yang dalam jangka panjang bisa membantu meredam gejolak harga.

Bacaan Lainnya

Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri. Kini mulai bergerak ke arah ekonomi produktif. Mereka mencoba komoditas lain seperti pokcai, meski hasil awalnya baru sekitar 3 kilogram. Namun arah geraknya jelas: produksi berkelanjutan.

Di banyak daerah, model seperti ini dikenal sebagai strategi urban farming, yang mampu mengurangi ketergantungan pasokan luar, menekan biaya konsumsi rumah tangga, serta menciptakan tambahan pendapatan.

Dalam konteks Kepri, yang merupakan wilayah kepulauan dengan biaya logistik tinggi, langkah ini menjadi semakin strategis.

Di balik perjalanan ini, ada peran penting dari Pertamina Patra Niaga. Bantuan yang diberikan bukan sekadar simbolis. Peralatan, pelatihan, hingga pendampingan menjadi fondasi awal kelompok ini bertahan.

Pos terkait