Bupati Bone Sambut Investasi Jepang untuk Budidaya Perikanan dan Pelestarian Mangrove

“Kami targetkan ujicoba ini tuntas dalam tiga tahun. Kalau proyek ini diterima baik oleh masyarakat dan didukung oleh pemerintah, kita lanjutkan hingga ribuan hektare,” katanya.

Naoto Akune menambahkan, konsep investasi yang ditawarkannya merupakan konsep budidaya perikanan berbasis silvofishery, yakni sebuah metode ramah lingkungan yang mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan kegiatan perikanan produktif.

“Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Akune menambahkan, konsep silvofishery yang dimaksud mirip dengan konsep mina padi dalam dunia pertanian. Konsep ini telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan beberapa wilayah di Asia Tenggara.

Sistem ini menggabungkan tambak budidaya perikanan dengan keberadaan hutan mangrove sebagai bagian utama ekosistem.

Dalam konsep yang ditawarkan Akune, sekitar 60 hingga 80 persen area tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20 hingga 40 persen lainnya dimanfaatkan sebagai parit atau kolam untuk budidaya ikan, udang, maupun kepiting.

Menurut Akune, mangrove berperan sebagai biofilter alami yang mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan dari abrasi dan kerusakan lingkungan.

“Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tambahnya.(***)

Pos terkait