Bukan Endowment Negara, tetapi Kemampuannya yang Berubah (1-5)

Cermin bagi Indonesia
Pendapatan per kapita Indonesia pada 2025 sekitar US$5.060. Dalam visi Indonesia Emas 2045, kita ingin mencapai pendapatan per kapita sekitar US$30.000. Ini berarti dalam waktu kurang dari dua dekade Indonesia ingin melipatgandakan pendapatan per kapitanya hampir enam kali.

Target tersebut tidak mungkin dicapai hanya dengan memperbesar cara kerja lama.

Indonesia memiliki pasar besar, sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, bonus demografi, dan dokumen perencanaan jangka panjang. Namun, semua itu baru merupakan potensi. Potensi tidak otomatis menjadi produktivitas.

Bacaan Lainnya

Kita tidak kekurangan rencana. Yang sering kurang adalah konsistensi pelaksanaan, disiplin terhadap hasil, koordinasi lintas sektor, keberanian mengoreksi kebijakan, dan kemampuan mengalahkan kepentingan yang mempertahankan keadaan lama.

Karena itu, pertanyaan bagi Indonesia bukan apakah kita harus menjadi seperti Singapura, Tiongkok, Korea, atau Jepang.

Pertanyaannya adalah apakah kita dapat membangun kemampuan yang juga mereka miliki: membaca perubahan, menentukan arah, membangun manusia, memperkuat perusahaan, mendisiplinkan kepentingan, dan memperbarui kelembagaan.

Negara tidak menjadi maju karena besar. Negara juga tidak menjadi maju hanya karena kaya sumber daya.

Negara menjadi maju ketika ia memiliki kemampuan untuk terus-menerus menciptakan kemampuan baru.

Dan di situlah ujian Indonesia sesungguhnya dimulai. .. (menuju tulisan ke dua)

Jakarta 9 September 2026
LDT

Sumber: Paparan mengenai pengalaman keempat negara disampaikan dalam sesi Development Transformation: Country Experiences and Lessons from Asia, dengan narasumber: Singapura: Prof. Vu Minh Khuong, National University of Singapore. Tiongkok: Prof. Yong Wang, Deputy Dean, Institute of New Structural Economics, Peking University. Korea Selatan: Dr. Hokyung Bang, Director, Division of Development Research, Center for International Development, Korea Development Institute dan Jepang: Prof. Jun Saito, Senior Research Fellow, Japan Centre for Economic Research.

Pos terkait