BSE India Ungkap Ketidakpastian Global Bayangi Pasar Modal, Investor Masih Jadi PR

Sensex Tembus 85.000 pada 2024

Secara historis, BSE memiliki perjalanan panjang dan telah menyaksikan berbagai peristiwa nasional maupun global. Pergerakan pasar modal turut mengalami pasang surut seiring berbagai peristiwa, mulai dari pembunuhan perdana menteri, ledakan di gedung BSE, gempa bumi, hingga krisis keuangan global dan pandemi Covid-19.

BSE Sensex terus mengalami peningkatan dalam jangka panjang. Pada 1999, indeks tersebut menembus level 1.000 dan kemudian mencapai 85.000 untuk pertama kalinya pada 2024.

Namun, seperti yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), gejolak global juga memberikan tekanan terhadap pasar modal India. Sehari sebelumnya, BSE Sensex berada di level 74.003,82.

Bacaan Lainnya

Sundararaman mengatakan, kondisi makroekonomi India yang relatif stabil dan tetap tumbuh tinggi menjadi salah satu nilai tambah bagi pasar modal negara tersebut.

Selain itu, struktur demografi juga menjadi potensi. Median usia penduduk India hanya sekitar 29 tahun, sementara perekonomian ditopang oleh investasi, konsumsi, dan ekspor.

Jumlah Investor Masih Berpotensi Bertambah

Meski demikian, peningkatan jumlah investor masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor keuangan India, sebagaimana juga terjadi di Indonesia.

Di Indonesia, jumlah investor pasar modal hingga Agustus 2026 tercatat sebanyak 31,14 juta atau baru sekitar 10% lebih dari total populasi.

Sementara di India, jumlah investor mencapai sekitar 260 juta atau sekitar delapan kali lipat dibandingkan Indonesia. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk India, tingkat inklusi investor tersebut baru sekitar 20%.

“Jumlah investor di India sangat besar untuk standar manapun. Namun, untuk ukuran India, ini sangat kecil. Populasi mencapai sekitar 1,3 miliar jiwa, sekitar 1 miliar di antaranya berada pada umur produktif untuk berinvestasi. Untuk itu, pasar kami masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar ke depannya,” ujar Sundararaman.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait