Beberapa wilayah yang diproyeksikan mulai membaik dalam tiga bulan ke depan antara lain Batu Ampar, Bengkong, dan Tanjung Sengkuang. Sementara jalur distribusi dari Sei Ladi menuju Tanjung Uma dan Tiban diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang karena harus disertai pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA).
“Untuk wilayah Batu Ampar, Bengkong, dan Tanjung Sengkuang diperkirakan membutuhkan waktu hingga tiga bulan. Sementara jalur Sei Ladi ke Tanjung Uma dan Tiban memerlukan tambahan waktu karena harus membangun IPA,” jelasnya.
Selain solusi jangka pendek, rapat juga membahas proyeksi kebutuhan air 10 hingga 30 tahun mendatang. Dalam konteks ini, BP Batam membuka peluang keterlibatan mitra sebagai investor guna mempercepat realisasi proyek infrastruktur air.
Skema yang dibahas memungkinkan mitra untuk berinvestasi dan langsung mengeksekusi proyek setelah rencana diverifikasi oleh tim teknis. Dengan pola ini, pembiayaan tidak harus menunggu ketersediaan dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun anggaran pemerintah.
Model pengembalian investasi dirancang melalui water charge, yakni pembayaran berdasarkan volume air yang didistribusikan kepada pelanggan. Artinya, pengembalian modal bersumber dari tarif air yang dibayarkan masyarakat, bukan dari APBN atau APBD.
Langkah tersebut dinilai lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan investasi infrastruktur yang bersifat jangka panjang. Selain itu, mitra juga dipersilakan mengajukan rencana kerja untuk peningkatan layanan, termasuk pembangunan waduk baru, penambahan suplai air baku, maupun peningkatan kapasitas waduk eksisting. Setiap proposal akan melalui proses verifikasi teknis sebelum disetujui.
Dalam pertemuan itu, turut disepakati rencana amandemen kerja sama dengan operator, namun terbatas pada aspek operasional dan pemeliharaan. Penyesuaian tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas distribusi serta meminimalkan gangguan layanan di lapangan.
Secara ekonomi, pembenahan sistem distribusi air bersih menjadi faktor krusial bagi daya saing Batam sebagai kawasan industri dan investasi. Ketersediaan air yang stabil dan berkualitas merupakan kebutuhan dasar bagi sektor manufaktur, galangan kapal, kawasan industri, hingga sektor jasa dan pariwisata.
Dengan strategi jangka pendek dan panjang yang dirumuskan bersama, BP Batam berharap persoalan klasik air bersih dapat diselesaikan secara menyeluruh, sekaligus memberikan kepastian bagi investor dan masyarakat. (***)
