Secara nasional, data Bank Indonesia menunjukkan sekitar 25 persen merchant QRIS saat ini berasal dari kategori makanan dan minuman, menjadikannya salah satu sektor dengan potensi pertumbuhan tertinggi dalam pengembangan ekonomi digital Indonesia.
“Kami melihat sektor kuliner memiliki posisi yang sangat strategis. Ketika merchant kuliner semakin banyak mengadopsi QRIS, maka terjadi peningkatan efisiensi transaksi, pertumbuhan omzet usaha, perluasan inklusi keuangan, dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan,” kata Rony.
Selain memperluas ekosistem pembayaran digital, program QRIS Jelajah Indonesia juga diarahkan untuk meningkatkan sinergi implementasi kebijakan ekonomi dan keuangan digital nasional antara pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, industri jasa keuangan, asosiasi bisnis, komunitas pelaku usaha, hingga masyarakat umum.
Bank Indonesia juga menempatkan aspek edukasi publik sebagai salah satu agenda utama program tersebut. Literasi digital dinilai menjadi faktor penting agar masyarakat semakin memahami manfaat penggunaan instrumen pembayaran digital, mulai dari QRIS, BI-FAST, kartu kredit Indonesia (KKI), hingga berbagai layanan digital lainnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia melihat keterkaitan kuat antara sektor kuliner dengan pengembangan industri pariwisata nasional.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam program QRIS Jelajah Indonesia 2026, tercatat 23,8 persen pengeluaran wisatawan dialokasikan untuk belanja kuliner, dengan nilai belanja mencapai sekitar USD 243,38 per kunjungan wisatawan.
Sektor kuliner juga memberikan dampak besar terhadap ketenagakerjaan nasional dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 19,48 juta orang, atau sekitar 13,47 persen dari total tenaga kerja nasional.
Tak hanya itu, sekitar 93,51 persen pelaku usaha makanan dan minuman di Indonesia saat ini masih menyediakan menu makanan lokal, menunjukkan besarnya potensi sektor ini sebagai kekuatan ekonomi domestik yang dapat terus dikembangkan melalui digitalisasi.
