IDNNEWS.CO.ID, BATAM — Batam, Kepulauan Riau, dinilai memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai kawasan industri dan perdagangan internasional, tetapi juga sebagai Halal Business Hub dan International Halal Gateway yang menghubungkan industri halal Indonesia dengan pasar regional dan global.
Peluang tersebut semakin terbuka seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta kebutuhan industri terhadap sistem verifikasi dan keterlacakan produk halal secara digital.
Gagasan itu mengemuka dalam Kepri International Business Forum 2026 yang digelar di Harmoni One Batam, Kota Batam, Rabu (23/9/2026).
Dalam forum tersebut, Founder CrimsonEdge System & Future Robotics asal India, Krithik Vijaykumar, memaparkan peluang kolaborasi teknologi antara India dengan Indonesia, khususnya Batam dan Bintan.
Menurut Krithik, kekuatan India dalam sumber daya manusia dan pengembangan teknologi dapat dipadukan dengan basis manufaktur Batam-Bintan untuk membangun rantai pasok baru di kawasan Asia.
“India dapat mengerjakan teknologi, sementara Indonesia dapat mengembangkan manufaktur. Indonesia memiliki pasar untuk penggunaan teknologi, sedangkan India memiliki pasar pemasok teknologi,” ujarnya.
Skema tersebut, kata dia, dapat dikembangkan dengan India sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi, Batam dan Bintan sebagai lokasi implementasi sekaligus pengembangan manufaktur, sementara Singapura menjadi salah satu pasar komersial regional.
“Penggunaan teknologi dapat dikembangkan di India, dibuktikan dan diterapkan di Indonesia, kemudian dipasarkan di Singapura. Ini merupakan peluang besar yang dapat memberikan manfaat bagi pasar Asia sekaligus menguntungkan India,” katanya.
Batam Berpeluang Jadi Pusat Ekosistem Halal Digital
Dalam konteks industri halal, perkembangan teknologi digital dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat posisi Batam sebagai Halal Business Hub sekaligus pintu masuk produk halal Indonesia menuju pasar internasional.
Krithik menilai Indonesia memiliki keunggulan dari sisi pasar dan ekosistem manufaktur produk halal. Tantangannya adalah bagaimana memastikan status dan perjalanan sebuah produk dapat diverifikasi secara mudah, transparan, dan terpercaya oleh konsumen.
Karena itu, teknologi dapat digunakan tidak hanya untuk mendukung proses sertifikasi, tetapi juga membangun sistem digital verification yang memungkinkan konsumen menelusuri informasi sebuah produk.
“Ini bukan hanya soal sertifikasi, tetapi lebih kepada verifikasi digital. Itulah masa depan sertifikasi halal,” ujarnya.
Konsep tersebut membuka peluang bagi Batam untuk mengembangkan ekosistem industri halal yang terintegrasi dengan teknologi, mulai dari produksi, sertifikasi, pelacakan rantai pasok, distribusi hingga akses pasar internasional.
