Pengamat Pariwisata Buralimar: Blackout Batam Jadi Alarm, Kepri Harus Perkuat Ketahanan Destinasi Wisata

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Peristiwa pemadaman listrik atau blackout yang melanda Batam dan sejumlah wilayah di Kepulauan Riau (Kepri) pada 12 Oktober 2026 menjadi peringatan penting bagi industri pariwisata.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa daya tarik alam dan promosi destinasi saja tidak cukup untuk menjamin kepuasan wisatawan tanpa didukung kesiapan infrastruktur dan kualitas pelayanan.

Pengamat Pariwisata Kepri, Buralimar, menilai Kepri memiliki modal besar untuk menjadi destinasi unggulan, mulai dari keindahan alam bahari, kekayaan budaya, keramahan masyarakat, hingga kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia.

Bacaan Lainnya

Batam, Bintan, serta berbagai pulau wisata di Kepri menawarkan pengalaman yang beragam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan destinasi menghadapi gangguan yang dapat memengaruhi kenyamanan dan keselamatan pengunjung.

Menurutnya, pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh keindahan tempat yang dikunjungi, tetapi juga oleh kepastian pelayanan, keamanan, kenyamanan, dan kemampuan pengelola menangani situasi darurat.

Ketika listrik padam, aktivitas hotel, resor, restoran, transportasi, komunikasi, hingga sejumlah fasilitas wisata berpotensi terganggu. Dalam kondisi tersebut, respons pelaku usaha menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi penilaian wisatawan terhadap profesionalisme sebuah destinasi.

BACA JUGA:  Pertamina dan Satgas Aceh Sidak Tiga SPBU, Temukan Indikasi Penyimpangan Penyaluran BBM

Wisatawan mungkin dapat memahami gangguan teknis yang terjadi di luar kendali pengelola. Namun, mereka tetap membutuhkan informasi yang jelas, alternatif pelayanan, serta jaminan bahwa keselamatan dan kebutuhan dasar mereka tetap menjadi prioritas.

Blackout Jadi Momentum Pembenahan Industri Pariwisata

Buralimar menilai pelaku pariwisata Kepri perlu mengubah pola penanganan krisis, dari sekadar merespons ketika gangguan terjadi menjadi mempersiapkan langkah antisipasi sejak awal.

Hotel, resor, restoran, biro perjalanan, pengelola destinasi, operator transportasi, pemandu wisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu memiliki prosedur operasional darurat yang jelas.

Kesiapan tersebut mencakup ketersediaan generator listrik atau genset, bahan bakar cadangan, tandon air bersih, penerangan darurat, jalur komunikasi alternatif, serta mekanisme pembayaran manual ketika sistem digital tidak dapat digunakan.

Langkah tersebut bukan sekadar pelengkap fasilitas usaha, melainkan bagian dari standar kesiapan dalam memberikan pelayanan yang profesional kepada wisatawan.

Selain kesiapan masing-masing pelaku usaha, asosiasi pariwisata juga perlu memperkuat koordinasi antarpelaku industri, terutama dalam penyampaian informasi kepada wisatawan saat terjadi gangguan.

BACA JUGA:  ISEF Memperkuat Komitmen Indonesia dalam Memajukan Ekonomi Keuangan Syariah

Informasi yang cepat, seragam, dan dapat dipercaya diperlukan agar wisatawan tidak menerima penjelasan yang berbeda-beda. Koordinasi yang baik juga dapat membantu mencegah gangguan teknis berkembang menjadi persoalan reputasi destinasi.

Promosi Harus Sejalan dengan Kualitas Pelayanan

Tantangan lain yang perlu menjadi perhatian adalah kesesuaian antara promosi pariwisata dan kondisi pelayanan di lapangan.

Kepri selama ini memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata bahari, rekreasi, budaya, serta perjalanan singkat bagi wisatawan dari negara tetangga. Namun, citra destinasi unggulan harus dibangun melalui pengalaman nyata yang dirasakan pengunjung.

Promosi yang menjanjikan kenyamanan dan pengalaman berkelas, menurut perspektif pengembangan pariwisata, harus diikuti kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan sistem pelayanan yang memadai.

Karena itu, pemerintah daerah, pengelola kawasan, penyedia energi, pelaku usaha, dan asosiasi pariwisata perlu membangun kerja sama yang lebih konkret dalam meningkatkan ketahanan destinasi.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyusun standar minimum kesiapsiagaan destinasi wisata, termasuk pemenuhan kebutuhan listrik, air bersih, telekomunikasi, keselamatan pengunjung, dan pelayanan darurat.

Pelatihan sumber daya manusia, simulasi penanganan krisis, investasi energi alternatif, serta evaluasi berkala juga perlu menjadi bagian dari agenda peningkatan kualitas industri pariwisata Kepri.

BACA JUGA:  ALMI Batam Desak Audit Total Galangan ASL, Minta Operasi Dihentikan Sementara

Kepri Jangan Hanya Mengejar Jumlah Kunjungan

Keberhasilan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Kualitas pengalaman, lama tinggal, belanja wisatawan, tingkat kepuasan, serta keinginan untuk kembali dan merekomendasikan destinasi kepada orang lain juga perlu menjadi indikator penting.

Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi pariwisata diharapkan tidak hanya dirasakan oleh pengelola hotel dan destinasi besar, tetapi juga oleh pelaku UMKM, transportasi lokal, pemandu wisata, serta masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Blackout pada 12 Oktober 2026 seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kesiapan industri pariwisata Kepri dalam menghadapi situasi darurat.

Keindahan alam tetap menjadi modal utama untuk menarik wisatawan. Namun, profesionalisme pelayanan, kepastian informasi, keselamatan, dan kemampuan menghadapi gangguan akan menentukan apakah wisatawan merasa nyaman untuk kembali.

Pada akhirnya, Kepri tidak cukup hanya dikenal sebagai daerah dengan pantai indah dan panorama laut yang memikat. Kepri juga perlu membangun reputasi sebagai destinasi yang tangguh, aman, nyaman, dan mampu menjaga kualitas pengalaman wisatawan dalam berbagai situasi.

Sebab, keindahan dapat menjadi alasan wisatawan datang, tetapi kualitas pelayanan dan kepercayaan menjadi faktor penting yang mendorong mereka untuk kembali. (****)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *