Indonesia di BRICS Berpacu Tangkap Pergeseran Modal Global, Pasar Keuangan Diperkuat

IDNNEWS.CO.ID, MUMBAI — Negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan gejolak pasar keuangan global dengan mendorong kolaborasi sekaligus berkompetisi untuk menarik arus modal. Di tengah ketidakpastian akibat tensi geopolitik dan disrupsi perdagangan, pendalaman pasar keuangan menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Indonesia sebagai anggota BRICS turut berada dalam dinamika tersebut. Di satu sisi, Indonesia mendorong kerja sama dengan negara-negara anggota BRICS untuk menghadapi perubahan lanskap ekonomi global. Di sisi lain, Indonesia juga berpacu memperkuat ekosistem keuangan domestik agar tidak semakin tertinggal dari negara mitra seperti India dan China.

Ketidakpastian global yang dipicu tensi geopolitik dan gangguan perdagangan turut mendorong perpindahan modal ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), termasuk dolar Amerika Serikat (AS).

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Efisiensi Anggaran Pemerintah Tekan Okupansi Hotel di Batam, Industri Perhotelan Terdampak

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara emerging markets karena penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) dapat meningkatkan tekanan terhadap arus modal asing.

Dalam situasi tersebut, pendalaman pasar keuangan dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan daya tahan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi ukuran ekonomi, Indonesia memiliki posisi strategis karena merupakan anggota G20 dan BRICS. Bersama India dan China, Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan kontribusi ekonomi dan populasi yang besar.

Namun, pemerintah mengakui pasar keuangan Indonesia masih perlu diperdalam. Salah satu langkah yang tengah didorong adalah pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), yang diarahkan sebagai katalis pendalaman sektor keuangan, pengembangan inovasi jasa keuangan, peningkatan investasi, serta penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.

Selain PFII, Indonesia juga mendorong pengembangan instrumen dan ekosistem keuangan lainnya, termasuk Bursa Komoditas dan Mineral Strategis (Icomex), untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis.

BACA JUGA:  Banyak Paket Istimewa untuk Anggota Ascott Star Rewards Selama Akhir Tahun dari Harris Hotel Batam Center

India dan China Lebih Dulu Memperdalam Pasar Keuangan

Di tengah upaya tersebut, Indonesia menghadapi persaingan dengan sejumlah negara yang telah memiliki pasar keuangan lebih beragam dan dalam.

India dan China, termasuk Hong Kong sebagai pusat keuangan, telah mengembangkan berbagai instrumen serta ekosistem pasar keuangan yang mampu mendukung mobilisasi modal dalam skala besar.

Perbedaan kedalaman pasar tersebut menjadi salah satu tantangan bagi Indonesia ketika harus bersaing memperebutkan arus modal global.

Karena itu, penguatan pasar keuangan nasional menjadi bagian dari agenda untuk memperluas sumber pembiayaan, meningkatkan daya tarik investasi, serta mengurangi kerentanan terhadap perubahan arus modal global.

Pemerintah sebelumnya menyatakan PFII dirancang untuk melengkapi ekosistem keuangan nasional dengan pusat keuangan berstandar internasional. Kehadirannya diharapkan dapat menarik investasi global sekaligus memperluas sumber pembiayaan jangka panjang bagi pembangunan nasional.

BRICS Dorong Pengurangan Ketergantungan Dolar

Di sisi lain, negara-negara BRICS juga terus mendorong kerja sama untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan dan sistem keuangan internasional.

BACA JUGA:  OJK Bangun Kantor Baru di Jambi, Pemprov Hibahkan Lahan Seluas 2.122 Meter Persegi

Upaya tersebut antara lain mencakup pembahasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta penguatan konektivitas antarpasar keuangan negara anggota.

Namun, kerja sama tersebut masih menghadapi tantangan dalam penerapannya. Sejumlah agenda kolaborasi, termasuk pembentukan asosiasi bursa efek dan pengembangan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal, belum menghasilkan progres konkret seperti yang diharapkan.

Bagi Indonesia, dinamika tersebut menempatkan BRICS sebagai ruang kolaborasi sekaligus kompetisi. Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama antarnegara anggota untuk memperluas konektivitas ekonomi, tetapi pada saat yang sama perlu memperkuat daya saing pasar keuangannya sendiri.

Dengan ketidakpastian geopolitik dan perubahan arus modal global yang masih berlangsung, penguatan pasar keuangan domestik menjadi salah satu faktor penting bagi Indonesia untuk menangkap peluang investasi sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *