Selain itu, tingginya kebutuhan hewan kurban juga mencerminkan stabilitas ekonomi masyarakat Batam. Di tengah dinamika ekonomi global, peningkatan konsumsi hewan kurban menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berkurban tetap terjaga bahkan cenderung meningkat.
Seiring meningkatnya volume ternak yang masuk, DKPP Batam bersama instansi terkait mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan. Langkah ini penting untuk memastikan seluruh hewan kurban yang masuk ke Batam sehat, aman, dan layak dikonsumsi.
Pengawasan dilakukan sejak dari daerah asal hingga titik pemasukan ke Batam. Setiap hewan wajib memenuhi persyaratan kesehatan laboratorium guna mencegah masuknya penyakit hewan menular.
Adapun sejumlah penyakit yang menjadi fokus pengawasan antara lain Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) – khusus sapi vaksin wajib uji Elisa Structural Protein; Lumpy Skin Disease (LSD); Anthrax; Brucellosis (RBT) dan Jembrana.
Persyaratan kesehatan tersebut menyesuaikan kondisi epidemiologi daerah asal maupun daerah tujuan. Dengan sistem pengawasan berlapis, pemerintah berupaya memastikan hewan kurban yang beredar di Batam aman bagi masyarakat.
Pengawasan tidak berhenti pada saat pemasukan ternak. Menjelang hari penyembelihan, tim dokter hewan dan petugas kesehatan hewan akan melakukan pemeriksaan lanjutan di lapak-lapak penjualan hingga lokasi pemotongan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan pangan serta melindungi masyarakat dari risiko penyakit zoonosis. Pemerintah juga mengimbau masyarakat membeli hewan kurban di tempat resmi yang telah diawasi petugas.
Lonjakan kebutuhan hewan kurban di Batam menjadi gambaran optimisme ekonomi menjelang Iduladha 2026. Selain meningkatkan kesejahteraan peternak, momentum ini juga mendorong aktivitas perdagangan, transportasi, hingga jasa pendukung lainnya.
Dengan pengawasan kesehatan yang ketat dan kesiapan distribusi, pemerintah berharap pelaksanaan kurban tahun ini berjalan lancar, aman, dan memberikan dampak ekonomi positif yang luas bagi berbagai sektor. (iman)
